Sepi Datang Lagi Kepadaku

: Kepada M

Kau kusebut Mimpi. Memberi batas pada realita dan cinta. Aku pergi untuk menemuimu. Aku datang kepadamu. Sepi meninggalkan aku karena kau.

Malam ini, aku bangun pukul 3 pagi. Kau hilang. Ranjang di kamarku kedinginan.

Pagi datang membawa kabar tentang bertumpuk persoalan di kubikel kantor. Aku masih mencoba lari, mencarimu. Aku melihat kau. Di ujung mataku. Menyatu dengan orang-orang, kendaraan-kendaraan, dan jalan-jalan yang melewati aku.

Lalu sepi datang lagi kepadaku.

Depok, 9 Juni 2016


Abu yang Dulu Api Hangat di Dadaku

Hati yang jatuh cinta, konon lebih indah dari apapun juga. Kecuali aku. Hatiku yang jatuh kepadamu malah hancur. Kau pun pergi. Tak sudi melirik hati yang hampir mati.

Bertahun-tahun yang lalu kita adalah puisi. Sepanjang hari, kata-kata membisikkan cerita. Setiap malam, sunyi merayakan keheningan cinta. Aku tidur di dadamu, kau hangat dipelukanku.

Kini, kau Abu. Tinggal sisa-sisamu di hatiku. Terserak. Beterbangan. Menempel-nempel di mataku.

Depok, 9 Juni 2016


Bulan Separuh

Kebahagiaanku tidak pulang lagi hari ini. Entah sudah keberapa hari. Kamarku kosong. Dinding-dindingnya, yang tanpa lukisan maupun foto kenangan, mencoba mewarnai ketiadaan.

Aku memandangi gambar hati. Satu yang tinggal, menemani. Berwarna sebiru kesedihanmu. Semerah kepedihanku. Sehitam ketidaktahuan kita. Seputih perasaan-perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Seterang kenangan. Segelap harapan.

Kesepian akan mengukuhkan diri dengan caranya sendiri. Kenangan akan menemukan cara untuk kembali. Lalu cinta akan menelan kebiasaan-kebiasaan, melukai perasaan-perasaan. Ingatkan aku untuk berterima kasih padamu tentang hal-hal ini.

Semoga kau lihat bulan malam ini. Separuh. Rapuh. Mengingatkanku pada sandal tua ibuku yang dibiarkan di depan pintu. Dan hatiku.

Jumat, 30 April 2016
*habis nonton AADC + lihat bulan separuh yang keren banget*


Bicara Cinta

Kumpulan pohon bambu berisik menyambut angin. Seperti seorang perempuan yang senang mengucapkan sayang kepada lelakinya yang baru pulang.

Di rumah, aku baru saja belajar hal baru. Tentang waktu. Tentang bagaimana masa lalu bisa membelenggu. Tentang masa kini yang menipu. Dan tentang masa depan yang abu-abu.

Lalu dari kamu, aku tahu kalau kata-kata adalah obat, sekaligus pengkhianat.

image

Depok, Maret 2016


Menumpuk Rindu

Pagiku adalah nyanyian burung-burung.
Mereka bukan bersenandung tentang engkau.
Komputer di kubikel kantorku sibuk mengetik nama-nama orang.
Bukan mengetik namamu.

Perjalanan kali ini menjauhkanku dari pulang.
Menolak panggilanmu yang berulang-ulang.
Menutup palang di ujung jalan.
Meninggalkan hangat dadamu yang nyaman.

Ketika senja datang yang kesekian,
aku di tengah jalan.
Orang-orang lalu lalang.
Mereka sempat mengenalmu,
tapi ingatan tentang kau dikuburkan dalam-dalam.

Tak ada tanda-tanda tentang kau di kota ini.
Tapi aku masih mengingatmu.

Menjauhkan diri dari kamu itu ternyata sia-sia.
Cuma menumpuk rindu.
Aku jadi semakin ingin memelukmu.

image


Jakarta, Maret 2016
Iseng habis buka timehop


Diproteksi: Hati yang Tidak Terbiasa Bahagia

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Sudah Lama Hilang

Pada temaram malam, aku berjalan
Menyisir jalan, menelusuri kenangan

Aku membayangkan diriku lebur dalam gelap
Mengintip terang yang ada saat kau datang
Sayang, waktu ada kau, aku hilang

Aku menemukan hatiku mengambang
Menyamar jadi udara yang kau hirup
Masuk ke dadamu
Atau setidaknya jadi angin, membelai rambut dan pipimu yang kesepian

Lama aku berjalan
Sampai tak bisa pulang
Tersesat
Aku sadar
Bahwa aku,
sudah lama hilang


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 953 pengikut lainnya