Benci yang Menutupi Sayang

Sayang dan benci memang tak terpisahkan. Aku sayang diriku. Tapi juga terkadang benci padanya. Bahkan saat ini, benci yang kurasakan melebihi sayang. Bukan apa-apa, aku masih sayang muka bulatku, tangan kanan dan kiri, kaki besarku; tapi segala rasa sayang itu terkalahkan benci. Benci pada ingatanku.

Betapa tidak, dia telah mengkhianatiku. Dalam dan tajam. Aku paling tidak suka pengkhianat, apalagi pengkhianat itu adalah kepercayaanku. Ya, aku sangat mempercayai ingatanku. Dia telah membantuku merawat kenanganku sekaligus membuang yang tak perlu.

Tapi tidak sekarang. Saat aku telah mempercayakan bulat-bulat segala kenanganku padanya, ia berpaling dariku. Dan tiba-tiba semua kenangan buruk ditumpahkannya ke hadapanku.

Aku tersesat. Aku seharusnya berjalan maju tapi kenangan-kenangan buruk ini membuatku lupa ke mana tujuanku.


Diproteksi: Surat kaleng

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:


Sedih Itu Juga Tak Berharap Datang

Perempuan itu memutuskan untuk berjalan. Meninggalkan semua yang dia rasa menyakitkan. Sempat juga dia ingin berbalik, tak mau meninggalkan sedikit bahagia yang pernah dia rasakan. Tapi baginya, mundur bukan pilihan.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, ia berjalan kadang dengan ragu. Di pertigaan jalan dia menengok ke kiri lama sekali. Lalu ke kanan lama sekali. Dia pun berhenti. Entah menunggu apa. Lama setelah itu, baru dia berjalan kembali. Dia berjalan lurus. Hal-hal di kanan dan kirinya sepertinya kurang menarik perhatiannya.
Lalu sedih itu datang. Lagi. Perempuan itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
“Aku mencari kebahagiaan yang besar di depan. Mengapa kamu yang datang?”
Sedih itu muram. “Maafkan aku. Aku juga tak berharap datang padamu. Tapi cuma kamu, yang membiarkan aku berdamai dengan diriku. Air matamu terlalu menenangkan, sulit sekali kutinggalkan.”


Dunia yang Sempurna

Aku melihatmu sebagai lelaki sempurna. Dia sebaliknya, menganggapmu teman biasa. Aku merindukanmu sepanjang jarak di anatara kita. Dia tak pernah menganggapmu istimewa. Aku memujamu dengan sepenuh cinta. Dia … ah, kamu tak berarti apa-apa baginya.

Tapi di dunia yang sempurna ini, aku setengah mati mencintai kamu, yang memberikan sepenuh hatimu untuk dia.


Apa yang lebih buta dari cinta?

Kita.

Yang tak peduli pada apa-apa selain bersama.

Apa yang lebih luka dari duka?

Kita.

Ketika rasa yang kita punya menguap bersama udara.

Lanjutkan membaca

Kata Penyair

Angin mengecupkan selamat tidur setiap malam.

Penyair memberitahuku itu puisi.

 

Matahari mengelus aku setiap pagi,

Menghangatkan hari-hari yang kujalani.

Kata penyair itu puisi.

 

Secangkir kopi mendamaikan senjaku tiap hari.

Penyair bilang itu puisi.

 

Kamu telah pergi,

tapi hatiku bilang kamu selalu menemani.

Aku lupa bertanya pada penyair, apakah itu juga puisi?

 


Hilang

β€œMengapa kau sudah lama tidak membuat puisi? Mengapa cerita-cerita di kepalamu tidak kau tuangkan lagi ke dalam tulisan?” Begitulah seorang kawan bertanya padaku.

Pertanyaan yang saat itu tak bisa kujawab. Aku pun tersenyum saja.

Sebetulnya aku tahu jawabannya. Bagaimana bisa aku membuat puisi? Sedang merasa saja aku tak bisa lagi. Bagaimana bisa aku menuliskan dongeng dan cerita? Sedangkan di kepalaku seperti tak ada apa-apa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 939 pengikut lainnya.