Bicara Cinta

Kumpulan pohon bambu berisik menyambut angin. Seperti seorang perempuan yang senang mengucapkan sayang kepada lelakinya yang baru pulang.

Di rumah, aku baru saja belajar hal baru. Tentang waktu. Tentang bagaimana masa lalu bisa membelenggu. Tentang masa kini yang menipu. Dan tentang masa depan yang abu-abu.

Lalu dari kamu, aku tahu kalau kata-kata adalah obat, sekaligus pengkhianat.

image

Depok, Maret 2016


Menumpuk Rindu

Pagiku adalah nyanyian burung-burung.
Mereka bukan bersenandung tentang engkau.
Komputer di kubikel kantorku sibuk mengetik nama-nama orang.
Bukan mengetik namamu.

Perjalanan kali ini menjauhkanku dari pulang.
Menolak panggilanmu yang berulang-ulang.
Menutup palang di ujung jalan.
Meninggalkan hangat dadamu yang nyaman.

Ketika senja datang yang kesekian,
aku di tengah jalan.
Orang-orang lalu lalang.
Mereka sempat mengenalmu,
tapi ingatan tentang kau dikuburkan dalam-dalam.

Tak ada tanda-tanda tentang kau di kota ini.
Tapi aku masih mengingatmu.

Menjauhkan diri dari kamu itu ternyata sia-sia.
Cuma menumpuk rindu.
Aku jadi semakin ingin memelukmu.

image


Jakarta, Maret 2016
Iseng habis buka timehop


Diproteksi: Hati yang Tidak Terbiasa Bahagia

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:


Sudah Lama Hilang

Pada temaram malam, aku berjalan
Menyisir jalan, menelusuri kenangan

Aku membayangkan diriku lebur dalam gelap
Mengintip terang yang ada saat kau datang
Sayang, waktu ada kau, aku hilang

Aku menemukan hatiku mengambang
Menyamar jadi udara yang kau hirup
Masuk ke dadamu
Atau setidaknya jadi angin, membelai rambut dan pipimu yang kesepian

Lama aku berjalan
Sampai tak bisa pulang
Tersesat
Aku sadar
Bahwa aku,
sudah lama hilang


Yang Paling-paling di Dunia

Yang paling indah, tentu saja mata orang yang jatuh cinta. Kau bisa menemukan langit berbintang, pelukan menghangatkan, laut yang menenangkan, dan segala hal kesukaanmu di sana.
Mata orang-orang yang jatuh cinta adalah ibu dari segala kebaikan di dunia.

Yang paling menular adalah senyum orang-orang yang jatuh cinta. Kau akan langsung lupa pada sakit, sedih, dan pedihmu; dan akan ikut tersenyum bersama mereka.

Yang paling membahagiakan adalah pulang kepada cinta. Kepada awal dan tujuan hidup, teman seperjalanan, rumah tempat berlindung dan beristirahat dengan pulang. Kepada kamu.


Mencintai Laut

Aku lupa menuruti nasihat seorang penyair. Dalam puisinya, dia bilang supaya aku jatuh cinta pada langit.

Cintaku malah jatuh padamu. Laut. Yang sering berpura-pura menjadi langit. Namun lebih dalam tapi suka mengelabui perihal segala di dalamnya. Hanya dengan mengingatmu, hatiku sudah basah.

Padahal gadis kecil di dalam aku tak pernah memilih pantai untuk mengisi liburan sekolahnya. Ibuku bilang aku lebih suka gunung dan kebun-kebun. Tapi aku juga melupakan gadis kecil itu, lupa kata-kata ibuku.

Cinta memang pekerjaan tak tahu diri. Datang tanpa kusadari, lalu tahu-tahu menarikku dalam-dalam ke dasar kamu.

Cinta, membuatku menenggelamkan diri.

Tangerang, 13 Maret 2016


Mendamba Tuhan

Kehidupan serupa jalan raya
Beberapa berjalan maju
Adapula yang diam
-entah karena lelah
atau sengaja tidak maju
dan memilih berlama-lama menatap masa lalu

Hidup adalah mendamba Tuhan
Allah adalah kepastian,
pemberi jalan
Mereka yang bergerak maju,
melangkahkan kaki menuju-Nya
Mereka yang diam,
menjalani hidup dengan mata tidak menatap ke depan
Keraguan lebih mereka percaya
Daripada kepastian jalan Tuhan

Meski demikian
Manusia pasti merindu pelukan-Nya
yang nyamannya melebihi rengkuhan ibu ketika kecil dulu

Sejauh apapun tersesat,
Hati-hati manusia adalah bagian dari semesta
Selalu ingin bersama kebenaran
Dalam keimanan

Depok, Oktober 2015
Dibuat dalam rangka lomba bulan bahasa guru-guru.
Tema yang disuruh: Ketuhanan.

Tapi kalah.
😅


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 950 pengikut lainnya