Category Archives: cerita

Sad Lines

sad_lines

Have you heard about these lines?

Saya pertama kali lihat gambar ini di 9gag. Bertahun-tahun yang lalu. Tapi terus membekas di hati saya.  Sebegitu membekasnya sampai ketika saya mengajar tentang parallel and perpendicular lines di kelas, saya cerita soal betapa menyedihkannya dua pasang garis ini. (Tentu saja bikin saya jadi agak galau di kelas, tapi efektif bikin murid-murid saya ingat karakter garis-garis ini. 😀 )

Lebih menyakitkan lagi ketika kamu merasakan sedihnya menjadi garis-garis ini.

Saya baru saja mengalaminya.

Saya baru saja merasakan menjadi salah satu dari garis tegak lurus itu. Bertemu seseorang yang menyenangkan, tapi sadar bahwa itu adalah satu-satunya pertemuan.

Pertemuan singkat yang menyenangkan, dan akan terus menjadi kenangan yang abadi tersimpan.

Sampai akhirnya, ketika berpisah, kami tak tahu ingatan apa yang akan kami kenang. Haruskah kami bersyukur telah dipertemukan? Atau merasa sedih karena tak akan pernah lagi saling menemukan?


Karya-karya Mahesa

dua hari lalu, @sihirhujan, admin @puisikita memberi kabar duka. @mahesaaditya telah meninggal dunia.
kami, teman mahesa di linimasa, sangat kaget mendengar kabar itu. bahkan saya sempat menangis. 😥

mahesa adalah salah satu penyair di twitter yang sangat saya kagumi. sajak-sajaknya sangat bagus, sering diReTweet akun-akun sajak twitter seperti puisikita, @sajak_cinta, @syair_malam, @sajakMbelink, juga sering di RT kami, followernya.

sebagai kenang-kenangan, saya akan menyalin beberapa sajak mahesa, yang saya ambil dari akun twitternya.

Aku akan baik-baik saja, sebab kelak segala luka dan kenangan akan mengabu, lesap di laut sunyi jiwaku.

Kucoba pejamkan kedua mata, namun rindu ini seperti ujung pedang yang mengancamku untuk terus membuka mata.

Melupakanmu, adalah merelakan airmataku jatuh, dalam setiap doaku, untukmu.

Sudahlah nak, berhenti, saat kita kelaparan puisimu tidak bisa dijual untuk membeli nasi!

Kutepikan segala kejemuan, lalu aku berkarib dengan kesunyian, matahari kuning tua mengecupku dari celah daun-daun cemara.

Kerinduan seperti sebuah kebodohan, meski memberi kepedihan namun tetap kulakukan.

Sajak-sajak yang kutulis dengan hangat embun mataku, karam di laut terdingin, hatimu.

Untuk apa kamu bertahan pada satu cinta yang nyata-nyata hanya memberi kamu luka?

Cinta yang telah pergi, cukup dikenang dalam sepi, seperti asap meninggalkan api, ia tak akan lagi kembali.

Peluklah aku sebentar saja, biar aku tenang seperti laut tanpa gelombang, seperti sunyi padang ilalang.

Itulah, sebagian kecil tulisan Mahesa. masih banyak yang tak kalah menakjubkan.

selamat jalan, mahesa.
semoga kau bahagia di sana. :’)


sajak tentang jarak

Tak bosan aku bersajak tentang jarak. Tentang pijak langkah kita yang semakin jauh menapak. Seberapa lama kita tahan pada jalan yang pelan-pelan memanjang? Seberapa kuat kita kukuh dari godaan orang-orang di kanan kiri jalan? Entah.

Dengan kau jauh di sana, aku mengenal rindu. Rindu yang mengenalkanku lebih dalam pada cinta. Cinta yang lebih berarti, sejati menyatukan aku dan kau menjadi kita.

Aku juga, kadang kalah pada dingin. Yang menepuk punggung tanganku yang telanjang, tanpa jemarimu untuk kutautkan. Tapi kenangan menjagaku agar tetap berpengharapan, bahwa masa depan kita adalah jalan dan genggam yang beriringan.

Bila kau menggigil dalam hujan, aku memelukmu dari kejauhan. Kuharap kau tak lupa menghanyutkan perahu kertas berisi peluk balasan.

Bila kau kepanasan, aku menghiburmu melalui embus angin yang menyejukkan. Lambaikan aku kecup balasan dengan alunan jalin kenangan. Karena angin adalah sahabat angan-angan, setia melanjutkan impian ke mana pun kau inginkan.

30112010


ini petang, sayang

Semburat senja masih sama. Merah dan merona jingga. Dengan awan kelabu di tepi-tepinya. Ini petang, sayang. Dan aku mau pulang. Selayak matahari pulang ke rumahnya, di sisi barat sana.

Seharian aku bayangkan rumah. Hangat, lapang, penuh cinta. Hatimu. Lama kujelajahi waktu, seharian aku mengadu hidup, untuk selalu kembali padamu. Ini petang, sayang. Dan aku mau pulang.

Inilah aku. Petang ini, sampai di rumah. Hatimu yang selalu ramah. Tapi kali ini, kutemukan hatimu terkunci, berpalang. Tapi aku tak khawatir, sayang. Kunci hatimu selalu kupegang, kurekatkan di jantung agar tak hilang. Ini petang, sayang. Aku tak sabar untuk pulang.

Ternyata hatimu dipalang dengan kunci yang baru. Kunci yang kupegang tak lagi padu. Kupanggil-panggil namamu, tapi kau tak kunjung datang. Aku terbelenggu sedu, terbenam dalam pilu. Ini petang, sayang. Tapi aku tak bisa pulang. Hatimu kini berpalang.


kita petualang (1)

kita adalah petualang. berlari telanjang di ilalang. merayu senang agar datang. berenang di kubang petang. memancang tiang, menjerang terang.

di perjalanan, di sebuah kota kita memandang dalam diam. sekeliling kita merah. entah kota apa. beberapa orang lewat, saling memaki dengan wajah merah. di alun-alun kota terpampang papan nama: “Ini Kota Merah!!!” Kita terheran, apakah di kota merah ini orang selalu marah-marah? Apakah merah identik dengan marah?

tidak untuk kita. karena bagi kita merah adalah ramah. sulur warna yang tabah dan tahan patah. merah yang merajah kita agar tak berpisah.

lalu kita melangkah, bertolak dari kota merah. mencari kota-kota lain dengan warna baru yang menantang. karena kita adalah petualang, menjejak langkah pada jalan yang terbentang.


cinta tersesat, tak bisa pulang

tadi di jalan pulang, aku bertemu cinta.  dia terlihat bingung. “aku tersesat,” jawabnya ketika kutanyakan ada apa. lalu dia terlihat semakin sedih dan menangis keras-keras. “aku mau pulang…,” isaknya.

sebenarnya aku hendak mengantar cinta pulang, tapi kuurungkan karena rumah cinta adalah kamu. aku terlalu takut bertemu kamu. aku takut nanti aku malah tersesat di dalam kamu. aku takut nanti malah aku yang tidak bisa pulang.

jadinya aku hanya menunjukkan jalannya saja pada cinta. tapi ternyata cinta sedang manja, dia tidak mau pulang sendiri. dia sampai merengek minta aku antarkan.

aku sempat kasihan, tidak tega membiarkan cinta yang sedang tersesat dan sedih untuk pulang sendirian. tapi aku juga masih sayang pada hatiku, yang tidak mau bertemu kamu. eh, kurasa dia mau, tapi tidak siap dengan perasaan-perasaan yang akan menyerbu begitu berhadapan denganmu.

akhirnya kuyakinkan cinta, bahwa dia pasti bisa pulang sendiri. banyak orang di luar sana yang sayang pada cinta, jadi kurasa ia akan baik-baik saja. aku pun memanggil taksi untuk mengantar cinta pulang.

lalu aku pulang ke rumahku sendirian.


di perjalanan

Aku di perjalanan, telingaku masih di rumah.
Mendengar jerit tangis anak-anakku
Si sulung meminta buku sekolah
Katanya sudah tak ada celah kosong untuk dia menulis.
Si tengah diam, hanya menunjukkan seragam sekolah satu-satunya yang penuh lubang
Si bungsu, yang belum bisa bicara hanya menangis.
Aku tahu ia lapar

Aku di perjalanan, mataku masih di rumah.
Melihat tubuh keluargaku berdesakan
Saling mencoba tidur untuk melupakan lapar
Istriku hanya memasak sedikit nasi dan dedaunan yang ia temukan di kebun orang.
Uang yang kuberikan hari kemarin untuk bayar keamanan rumah, katanya.

Aku diperjalanan tapi hatiku masih di rumah.
Merasakan hangatnya senyuman keluargaku
Mengingat saat makan malam, yang merupakan saat kami memandang bulan

Aku di perjalanan, walau masih ingin di rumah
Walapun tempat itu tak layak disebut rumah
Hanya kotak kecil tempat kami berhimpit-himpitan

Aku di perjalanan
Meninggalkan keluargaku dengan kepedihan
Ah, sudahlah.
Toh katanya anak-anak yatim lebih mendapat perhatian.

*di sudut kota besar, di perempatan lampu merah, orang2 berkerumun. melihat seorang pedagang asongan menjadi korban tabrak lari. meninggal*