Yang Paling-paling di Dunia

Yang paling indah, tentu saja mata orang yang jatuh cinta. Kau bisa menemukan langit berbintang, pelukan menghangatkan, laut yang menenangkan, dan segala hal kesukaanmu di sana.
Mata orang-orang yang jatuh cinta adalah ibu dari segala kebaikan di dunia.

Yang paling menular adalah senyum orang-orang yang jatuh cinta. Kau akan langsung lupa pada sakit, sedih, dan pedihmu; dan akan ikut tersenyum bersama mereka.

Yang paling membahagiakan adalah pulang kepada cinta. Kepada awal dan tujuan hidup, teman seperjalanan, rumah tempat berlindung dan beristirahat dengan pulang. Kepada kamu.


Mencintai Laut

Aku lupa menuruti nasihat seorang penyair. Dalam puisinya, dia bilang supaya aku jatuh cinta pada langit.

Cintaku malah jatuh padamu. Laut. Yang sering berpura-pura menjadi langit. Namun lebih dalam dan suka mengelabui perihal segala di dalamnya. Hanya dengan mengingatmu, hatiku sudah basah.

Padahal gadis kecil di dalam aku tak pernah memilih pantai untuk mengisi liburan sekolahnya. Ibuku bilang aku lebih suka gunung dan kebun-kebun. Tapi aku juga melupakan gadis kecil itu, lupa kata-kata ibuku.

Cinta memang pekerjaan tak tahu diri. Datang tanpa kusadari, lalu tahu-tahu menarikku dalam-dalam ke dasar kamu.

Cinta, membuatku menenggelamkan diri.

Tangerang, 13 Maret 2016


Mendamba Tuhan

Kehidupan serupa jalan raya
Beberapa berjalan maju
Adapula yang diam
-entah karena lelah
atau sengaja tidak maju
dan memilih berlama-lama menatap masa lalu

Hidup adalah mendamba Tuhan
Allah adalah kepastian,
pemberi jalan
Mereka yang bergerak maju,
melangkahkan kaki menuju-Nya
Mereka yang diam,
menjalani hidup dengan mata tidak menatap ke depan
Keraguan lebih mereka percaya
Daripada kepastian jalan Tuhan

Meski demikian
Manusia pasti merindu pelukan-Nya
yang nyamannya melebihi rengkuhan ibu ketika kecil dulu

Sejauh apapun tersesat,
Hati-hati manusia adalah bagian dari semesta
Selalu ingin bersama kebenaran
Dalam keimanan

Depok, Oktober 2015
Dibuat dalam rangka lomba bulan bahasa guru-guru.
Tema yang disuruh: Ketuhanan.

Tapi kalah.
😅


Seharusnya

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Kami duduk di cafe yang ditata dengan romantis. Saya menyesap soft drink sambil menulis tulisan ini. Dia di kursi seberang, mengabiskan es krimnya pelan-pelan. Dia tersenyum, saya membalasnya.

Seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Lagu-lagu 90-an di tempat ini sama-sama membuat kami sesekali ikut menyanyikannya.

Meski begitu, hati-hati kami tidak ikut larut dalam keromantisannya.

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Mungkin seharusnya sekarang kami memulai percakapan dengan membahas buku-buku yang sedang kami baca, seperti Jesse dan Celine.

Tapi cerita kami berbeda. Panah cupid tidak menancap  di dadaku. Mungkin di dadanya juga tidak.

Cinta cuma simbol cerita. Sekadar dongeng para pencerita, supaya manusia mengenal bahagia.


Benci yang Menutupi Sayang

Sayang dan benci memang tak terpisahkan. Aku sayang diriku. Tapi juga terkadang benci padanya. Bahkan saat ini, benci yang kurasakan melebihi sayang. Bukan apa-apa, aku masih sayang muka bulatku, tangan kanan dan kiri, kaki besarku; tapi segala rasa sayang itu terkalahkan benci. Benci pada ingatanku.

Betapa tidak, dia telah mengkhianatiku. Dalam dan tajam. Aku paling tidak suka pengkhianat, apalagi pengkhianat itu adalah kepercayaanku. Ya, aku sangat mempercayai ingatanku. Dia telah membantuku merawat kenanganku sekaligus membuang yang tak perlu.

Tapi tidak sekarang. Saat aku telah mempercayakan bulat-bulat segala kenanganku padanya, ia berpaling dariku. Dan tiba-tiba semua kenangan buruk ditumpahkannya ke hadapanku.

Aku tersesat. Aku seharusnya berjalan maju tapi kenangan-kenangan buruk ini membuatku lupa ke mana tujuanku.


Diproteksi: Surat kaleng

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Sedih Itu Juga Tak Berharap Datang

Perempuan itu memutuskan untuk berjalan. Meninggalkan semua yang dia rasa menyakitkan. Sempat juga dia ingin berbalik, tak mau meninggalkan sedikit bahagia yang pernah dia rasakan. Tapi baginya, mundur bukan pilihan.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, ia berjalan kadang dengan ragu. Di pertigaan jalan dia menengok ke kiri lama sekali. Lalu ke kanan lama sekali. Dia pun berhenti. Entah menunggu apa. Lama setelah itu, baru dia berjalan kembali. Dia berjalan lurus. Hal-hal di kanan dan kirinya sepertinya kurang menarik perhatiannya.
Lalu sedih itu datang. Lagi. Perempuan itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
“Aku mencari kebahagiaan yang besar di depan. Mengapa kamu yang datang?”
Sedih itu muram. “Maafkan aku. Aku juga tak berharap datang padamu. Tapi cuma kamu, yang membiarkan aku berdamai dengan diriku. Air matamu terlalu menenangkan, sulit sekali kutinggalkan.”