Tag Archives: cinta

Bicara Cinta

Kumpulan pohon bambu berisik menyambut angin. Seperti seorang perempuan yang senang mengucapkan sayang kepada lelakinya yang baru pulang.

Di rumah, aku baru saja belajar hal baru. Tentang waktu. Tentang bagaimana masa lalu bisa membelenggu. Tentang masa kini yang menipu. Dan tentang masa depan yang abu-abu.

Lalu dari kamu, aku tahu kalau kata-kata adalah obat, sekaligus pengkhianat.

image

Depok, Maret 2016

Iklan

Yang Paling-paling di Dunia

Yang paling indah, tentu saja mata orang yang jatuh cinta. Kau bisa menemukan langit berbintang, pelukan menghangatkan, laut yang menenangkan, dan segala hal kesukaanmu di sana.
Mata orang-orang yang jatuh cinta adalah ibu dari segala kebaikan di dunia.

Yang paling menular adalah senyum orang-orang yang jatuh cinta. Kau akan langsung lupa pada sakit, sedih, dan pedihmu; dan akan ikut tersenyum bersama mereka.

Yang paling membahagiakan adalah pulang kepada cinta. Kepada awal dan tujuan hidup, teman seperjalanan, rumah tempat berlindung dan beristirahat dengan pulang. Kepada kamu.


Mencintai Laut

Aku lupa menuruti nasihat seorang penyair. Dalam puisinya, dia bilang supaya aku jatuh cinta pada langit.

Cintaku malah jatuh padamu. Laut. Yang sering berpura-pura menjadi langit. Namun lebih dalam dan suka mengelabui perihal segala di dalamnya. Hanya dengan mengingatmu, hatiku sudah basah.

Padahal gadis kecil di dalam aku tak pernah memilih pantai untuk mengisi liburan sekolahnya. Ibuku bilang aku lebih suka gunung dan kebun-kebun. Tapi aku juga melupakan gadis kecil itu, lupa kata-kata ibuku.

Cinta memang pekerjaan tak tahu diri. Datang tanpa kusadari, lalu tahu-tahu menarikku dalam-dalam ke dasar kamu.

Cinta, membuatku menenggelamkan diri.

Tangerang, 13 Maret 2016


Seharusnya

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Kami duduk di cafe yang ditata dengan romantis. Saya menyesap soft drink sambil menulis tulisan ini. Dia di kursi seberang, mengabiskan es krimnya pelan-pelan. Dia tersenyum, saya membalasnya.

Seharusnya ini adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Lagu-lagu 90-an di tempat ini sama-sama membuat kami sesekali ikut menyanyikannya.

Meski begitu, hati-hati kami tidak ikut larut dalam keromantisannya.

Seharusnya sekarang adalah saat yang tepat untuk jatuh cinta. Mungkin seharusnya sekarang kami memulai percakapan dengan membahas buku-buku yang sedang kami baca, seperti Jesse dan Celine.

Tapi cerita kami berbeda. Panah cupid tidak menancap  di dadaku. Mungkin di dadanya juga tidak.

Cinta cuma simbol cerita. Sekadar dongeng para pencerita, supaya manusia mengenal bahagia.


Dunia yang Sempurna

Aku melihatmu sebagai lelaki sempurna. Dia sebaliknya, menganggapmu teman biasa. Aku merindukanmu sepanjang jarak di anatara kita. Dia tak pernah menganggapmu istimewa. Aku memujamu dengan sepenuh cinta. Dia … ah, kamu tak berarti apa-apa baginya.

Tapi di dunia yang sempurna ini, aku setengah mati mencintai kamu, yang memberikan sepenuh hatimu untuk dia.


Apa yang lebih buta dari cinta?

Kita.

Yang tak peduli pada apa-apa selain bersama.

Apa yang lebih luka dari duka?

Kita.

Ketika rasa yang kita punya menguap bersama udara.


sebab bagi kita, cinta telah tiada

yang perlahan melayang, kini menghilang.
terhapus kenyataan.
yang sempat singgah, kini pindah.
terusir hilangnya perasaan.

kini waktu bukan lagi pemicu rindu.