Category Archives: Uncategorized

Menumpuk Rindu

Pagiku adalah nyanyian burung-burung.
Mereka bukan bersenandung tentang engkau.
Komputer di kubikel kantorku sibuk mengetik nama-nama orang.
Bukan mengetik namamu.

Perjalanan kali ini menjauhkanku dari pulang.
Menolak panggilanmu yang berulang-ulang.
Menutup palang di ujung jalan.
Meninggalkan hangat dadamu yang nyaman.

Ketika senja datang yang kesekian,
aku di tengah jalan.
Orang-orang lalu lalang.
Mereka sempat mengenalmu,
tapi ingatan tentang kau dikuburkan dalam-dalam.

Tak ada tanda-tanda tentang kau di kota ini.
Tapi aku masih mengingatmu.

Menjauhkan diri dari kamu itu ternyata sia-sia.
Cuma menumpuk rindu.
Aku jadi semakin ingin memelukmu.

image


Jakarta, Maret 2016
Iseng habis buka timehop


Diproteksi: Surat kaleng

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Sedih Itu Juga Tak Berharap Datang

Perempuan itu memutuskan untuk berjalan. Meninggalkan semua yang dia rasa menyakitkan. Sempat juga dia ingin berbalik, tak mau meninggalkan sedikit bahagia yang pernah dia rasakan. Tapi baginya, mundur bukan pilihan.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, ia berjalan kadang dengan ragu. Di pertigaan jalan dia menengok ke kiri lama sekali. Lalu ke kanan lama sekali. Dia pun berhenti. Entah menunggu apa. Lama setelah itu, baru dia berjalan kembali. Dia berjalan lurus. Hal-hal di kanan dan kirinya sepertinya kurang menarik perhatiannya.
Lalu sedih itu datang. Lagi. Perempuan itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
“Aku mencari kebahagiaan yang besar di depan. Mengapa kamu yang datang?”
Sedih itu muram. “Maafkan aku. Aku juga tak berharap datang padamu. Tapi cuma kamu, yang membiarkan aku berdamai dengan diriku. Air matamu terlalu menenangkan, sulit sekali kutinggalkan.”


Apa yang lebih buta dari cinta?

Kita.

Yang tak peduli pada apa-apa selain bersama.

Apa yang lebih luka dari duka?

Kita.

Ketika rasa yang kita punya menguap bersama udara.


Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya

Sebutlah dia, Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya.

Pada pagi hari dia bekerja, menjalani rutinitasnya tanpa benar-benar merasa. Bukan terpaksa, dia hanya lupa bagaimana cara tertawa dan bercanda dengan rekan-rekannya.

Waktu makan siang seringkali dilewatkannya begitu saja. Diet? Bukan. Dia hanya tak nyaman berada dalam makan dengan begitu banyak rekan kantornya. Tidak lapar, tanya rekan sebelah kubikelnya? Tidak, begitu jawabnya.

Kemudian dia akan pulang. Melewati jalan yang sama setiap hari. Melewati suasana yang dia hapal, melewati jalan-jalan yang sudah sangat dia kenal.  Begitulah, sepanjang jalan dia mengamati sekitar; bermonolog tentang apa yang kira-kira terjadi di dalam rumah mewah yang dia kagumi setiap hari, atau tentang bagaimana penjualan di toko kue itu (dia ingin mencobanya tapi seseorang dalam kepalanya selalu mencegahnya masuk ke sana)

Ketika akhirnya dia di rumah, segalanya tampak bercahaya di matanya.

Televisinya, adalah tempatnya berwisata. Dia paling suka acara jalan-jalan. membuatnya semakin mengenal semesta.

Dapurnya adalah laboratoriumnya. Tempatnya berkreasi, dan berpesta dengan dirinya sendiri.

Komputer pribadinya, adalah teman bercerita terbaiknya. Setelah berjam-jam di luar, hanya berkata seperlunya, dia bercerita tentang hari-harinya lewat tulisan. Dia juga menulis tentang dia dalam dunia yang berbeda, dunia yang ramah, dunia tempat dia dikelilingi orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

Begitulah setiap hari.

Dia terlalu asyik dengan imajinasinya.

Hingga dia tak melihat seseorang, yang selalu memperhatikannya.


You’re the Answer to A Girl Like Me

: Kang Gary

Aku mengenalmu dari leluconmu. Aku bersamamu saat kudengar lagu-lagumu. Aku menyukaimu karena kata-katamu.

kang gary's qoute

(gambar diambil dari sini)

Is this what they call love? 

When you have it, it’s a burden. Without it, you’re lonely.

Mendengar kalimat ini, aku seperti baru mengenal cinta. Kau mengajakku merasakan duka dan gembira. Menyerapnya dalam-dalam, membaurnya diam-diam; tersenyum dan terharu bersamaan. Kemudian kau berbisik: “cinta itu bukti bahwa kita nyata”.

Every single particle inside my body is loving you. 

Tiba-tiba aku kembali ke masa aku merasa menjadi Cinderella dan bertemu pangeran pujaannya. Yang memujaku, melebihi apa-apa. Apa lagi yang perlu kuminta? Duniaku sudah sempurna.

The Seine river glitters like your eyes.

The Eiffel Tower is very high, just like how I cannot reach your heart. 

Aku melayang menuju Paris. Bersamamu menyusuri kota nan romantis. Impian dan kenyataan menjadi bias. Bahagia yang berawal dari maya menjelma nyata.

Although you may be hurt and bleeding now, a better day will come. 

Hard work will never betray you.

Seakan  kurang sempurna, kau membuktikan diri sekali lagi bahwa kata-katamu   mampu menggerakkan semangatku. Membuatku bangkit. Membantuku mengubur keputusasaanku. Mendengar kau mengucapkan kata itu membuatku yakin pada kebahagiaan di depanku.

 

Pondok Aren, 05042013


Di Duniamu yang Selalu Malam, Dia Matahari yang Hilang.

Sesuatu yang kamu lihat bercahaya belum tentu bersinar. Mungkin saja dia bersinar cuma karena pantulan. Pantulan benda yang sejatinya bersinar, tapi tersembunyi di belakang.

Bersinar terang, tapi tersembunyi di belakang.

Tersenyum, menatapmu dari kejauhan.