Sedih Itu Juga Tak Berharap Datang

Perempuan itu memutuskan untuk berjalan. Meninggalkan semua yang dia rasa menyakitkan. Sempat juga dia ingin berbalik, tak mau meninggalkan sedikit bahagia yang pernah dia rasakan. Tapi baginya, mundur bukan pilihan.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, ia berjalan kadang dengan ragu. Di pertigaan jalan dia menengok ke kiri lama sekali. Lalu ke kanan lama sekali. Dia pun berhenti. Entah menunggu apa. Lama setelah itu, baru dia berjalan kembali. Dia berjalan lurus. Hal-hal di kanan dan kirinya sepertinya kurang menarik perhatiannya.
Lalu sedih itu datang. Lagi. Perempuan itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
“Aku mencari kebahagiaan yang besar di depan. Mengapa kamu yang datang?”
Sedih itu muram. “Maafkan aku. Aku juga tak berharap datang padamu. Tapi cuma kamu, yang membiarkan aku berdamai dengan diriku. Air matamu terlalu menenangkan, sulit sekali kutinggalkan.”


Dunia yang Sempurna

Aku melihatmu sebagai lelaki sempurna. Dia sebaliknya, menganggapmu teman biasa. Aku merindukanmu sepanjang jarak di anatara kita. Dia tak pernah menganggapmu istimewa. Aku memujamu dengan sepenuh cinta. Dia … ah, kamu tak berarti apa-apa baginya.

Tapi di dunia yang sempurna ini, aku setengah mati mencintai kamu, yang memberikan sepenuh hatimu untuk dia.


Apa yang lebih buta dari cinta?

Kita.

Yang tak peduli pada apa-apa selain bersama.

Apa yang lebih luka dari duka?

Kita.

Ketika rasa yang kita punya menguap bersama udara.

Lanjutkan membaca

Kata Penyair

Angin mengecupkan selamat tidur setiap malam.

Penyair memberitahuku itu puisi.

 

Matahari mengelus aku setiap pagi,

Menghangatkan hari-hari yang kujalani.

Kata penyair itu puisi.

 

Secangkir kopi mendamaikan senjaku tiap hari.

Penyair bilang itu puisi.

 

Kamu telah pergi,

tapi hatiku bilang kamu selalu menemani.

Aku lupa bertanya pada penyair, apakah itu juga puisi?

 


Hilang

“Mengapa kau sudah lama tidak membuat puisi? Mengapa cerita-cerita di kepalamu tidak kau tuangkan lagi ke dalam tulisan?” Begitulah seorang kawan bertanya padaku.

Pertanyaan yang saat itu tak bisa kujawab. Aku pun tersenyum saja.

Sebetulnya aku tahu jawabannya. Bagaimana bisa aku membuat puisi? Sedang merasa saja aku tak bisa lagi. Bagaimana bisa aku menuliskan dongeng dan cerita? Sedangkan di kepalaku seperti tak ada apa-apa.


Sad Lines

sad_lines

Have you heard about these lines?

Saya pertama kali lihat gambar ini di 9gag. Bertahun-tahun yang lalu. Tapi terus membekas di hati saya.  Sebegitu membekasnya sampai ketika saya mengajar tentang parallel and perpendicular lines di kelas, saya cerita soal betapa menyedihkannya dua pasang garis ini. (Tentu saja bikin saya jadi agak galau di kelas, tapi efektif bikin murid-murid saya ingat karakter garis-garis ini. :D )

Lebih menyakitkan lagi ketika kamu merasakan sedihnya menjadi garis-garis ini.

Saya baru saja mengalaminya.

Saya baru saja merasakan menjadi salah satu dari garis tegak lurus itu. Bertemu seseorang yang menyenangkan, tapi sadar bahwa itu adalah satu-satunya pertemuan.

Pertemuan singkat yang menyenangkan, dan akan terus menjadi kenangan yang abadi tersimpan.

Sampai akhirnya, ketika berpisah, kami tak tahu ingatan apa yang akan kami kenang. Haruskah kami bersyukur telah dipertemukan? Atau merasa sedih karena tak akan pernah lagi saling menemukan?


Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya

Sebutlah dia, Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya.

Pada pagi hari dia bekerja, menjalani rutinitasnya tanpa benar-benar merasa. Bukan terpaksa, dia hanya lupa bagaimana cara tertawa dan bercanda dengan rekan-rekannya.

Waktu makan siang seringkali dilewatkannya begitu saja. Diet? Bukan. Dia hanya tak nyaman berada dalam makan dengan begitu banyak rekan kantornya. Tidak lapar, tanya rekan sebelah kubikelnya? Tidak, begitu jawabnya.

Kemudian dia akan pulang. Melewati jalan yang sama setiap hari. Melewati suasana yang dia hapal, melewati jalan-jalan yang sudah sangat dia kenal.  Begitulah, sepanjang jalan dia mengamati sekitar; bermonolog tentang apa yang kira-kira terjadi di dalam rumah mewah yang dia kagumi setiap hari, atau tentang bagaimana penjualan di toko kue itu (dia ingin mencobanya tapi seseorang dalam kepalanya selalu mencegahnya masuk ke sana)

Ketika akhirnya dia di rumah, segalanya tampak bercahaya di matanya.

Televisinya, adalah tempatnya berwisata. Dia paling suka acara jalan-jalan. membuatnya semakin mengenal semesta.

Dapurnya adalah laboratoriumnya. Tempatnya berkreasi, dan berpesta dengan dirinya sendiri.

Komputer pribadinya, adalah teman bercerita terbaiknya. Setelah berjam-jam di luar, hanya berkata seperlunya, dia bercerita tentang hari-harinya lewat tulisan. Dia juga menulis tentang dia dalam dunia yang berbeda, dunia yang ramah, dunia tempat dia dikelilingi orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

Begitulah setiap hari.

Dia terlalu asyik dengan imajinasinya.

Hingga dia tak melihat seseorang, yang selalu memperhatikannya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 938 pengikut lainnya.