Apa yang lebih buta dari cinta?

Kita.

Yang tak peduli pada apa-apa selain bersama.

Apa yang lebih luka dari duka?

Kita.

Ketika rasa yang kita punya menguap bersama udara.

Lanjutkan membaca

Kata Penyair

Angin mengecupkan selamat tidur setiap malam.

Penyair memberitahuku itu puisi.

 

Matahari mengelus aku setiap pagi,

Menghangatkan hari-hari yang kujalani.

Kata penyair itu puisi.

 

Secangkir kopi mendamaikan senjaku tiap hari.

Penyair bilang itu puisi.

 

Kamu telah pergi,

tapi hatiku bilang kamu selalu menemani.

Aku lupa bertanya pada penyair, apakah itu juga puisi?

 


Hilang

“Mengapa kau sudah lama tidak membuat puisi? Mengapa cerita-cerita di kepalamu tidak kau tuangkan lagi ke dalam tulisan?” Begitulah seorang kawan bertanya padaku.

Pertanyaan yang saat itu tak bisa kujawab. Aku pun tersenyum saja.

Sebetulnya aku tahu jawabannya. Bagaimana bisa aku membuat puisi? Sedang merasa saja aku tak bisa lagi. Bagaimana bisa aku menuliskan dongeng dan cerita? Sedangkan di kepalaku seperti tak ada apa-apa.


Sad Lines

sad_lines

Have you heard about these lines?

Saya pertama kali lihat gambar ini di 9gag. Bertahun-tahun yang lalu. Tapi terus membekas di hati saya.  Sebegitu membekasnya sampai ketika saya mengajar tentang parallel and perpendicular lines di kelas, saya cerita soal betapa menyedihkannya dua pasang garis ini. (Tentu saja bikin saya jadi agak galau di kelas, tapi efektif bikin murid-murid saya ingat karakter garis-garis ini. :D )

Lebih menyakitkan lagi ketika kamu merasakan sedihnya menjadi garis-garis ini.

Saya baru saja mengalaminya.

Saya baru saja merasakan menjadi salah satu dari garis tegak lurus itu. Bertemu seseorang yang menyenangkan, tapi sadar bahwa itu adalah satu-satunya pertemuan.

Pertemuan singkat yang menyenangkan, dan akan terus menjadi kenangan yang abadi tersimpan.

Sampai akhirnya, ketika berpisah, kami tak tahu ingatan apa yang akan kami kenang. Haruskah kami bersyukur telah dipertemukan? Atau merasa sedih karena tak akan pernah lagi saling menemukan?


Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya

Sebutlah dia, Perempuan yang Hidup dalam Imajinasinya.

Pada pagi hari dia bekerja, menjalani rutinitasnya tanpa benar-benar merasa. Bukan terpaksa, dia hanya lupa bagaimana cara tertawa dan bercanda dengan rekan-rekannya.

Waktu makan siang seringkali dilewatkannya begitu saja. Diet? Bukan. Dia hanya tak nyaman berada dalam makan dengan begitu banyak rekan kantornya. Tidak lapar, tanya rekan sebelah kubikelnya? Tidak, begitu jawabnya.

Kemudian dia akan pulang. Melewati jalan yang sama setiap hari. Melewati suasana yang dia hapal, melewati jalan-jalan yang sudah sangat dia kenal.  Begitulah, sepanjang jalan dia mengamati sekitar; bermonolog tentang apa yang kira-kira terjadi di dalam rumah mewah yang dia kagumi setiap hari, atau tentang bagaimana penjualan di toko kue itu (dia ingin mencobanya tapi seseorang dalam kepalanya selalu mencegahnya masuk ke sana)

Ketika akhirnya dia di rumah, segalanya tampak bercahaya di matanya.

Televisinya, adalah tempatnya berwisata. Dia paling suka acara jalan-jalan. membuatnya semakin mengenal semesta.

Dapurnya adalah laboratoriumnya. Tempatnya berkreasi, dan berpesta dengan dirinya sendiri.

Komputer pribadinya, adalah teman bercerita terbaiknya. Setelah berjam-jam di luar, hanya berkata seperlunya, dia bercerita tentang hari-harinya lewat tulisan. Dia juga menulis tentang dia dalam dunia yang berbeda, dunia yang ramah, dunia tempat dia dikelilingi orang-orang yang dicintai dan mencintainya.

Begitulah setiap hari.

Dia terlalu asyik dengan imajinasinya.

Hingga dia tak melihat seseorang, yang selalu memperhatikannya.


Yang Kau Rasakan Malam Ini, dan Mungkin Malam-malam Nanti

Pada malam-malam ketika cahaya hilang.

Hati bertumbuh bersama sepi.

Jiwa menari bersama sunyi.

Kita menjauh dari bersama.

Hingga kau bertanya:

Apakah sepi bisa terluka?

Apa luka pernah kesepian?


You’re the Answer to A Girl Like Me

: Kang Gary

Aku mengenalmu dari leluconmu. Aku bersamamu saat kudengar lagu-lagumu. Aku menyukaimu karena kata-katamu.

kang gary's qoute

(gambar diambil dari sini)

Is this what they call love? 

When you have it, it’s a burden. Without it, you’re lonely.

Mendengar kalimat ini, aku seperti baru mengenal cinta. Kau mengajakku merasakan duka dan gembira. Menyerapnya dalam-dalam, membaurnya diam-diam; tersenyum dan terharu bersamaan. Kemudian kau berbisik: “cinta itu bukti bahwa kita nyata”.

Every single particle inside my body is loving you. 

Tiba-tiba aku kembali ke masa aku merasa menjadi Cinderella dan bertemu pangeran pujaannya. Yang memujaku, melebihi apa-apa. Apa lagi yang perlu kuminta? Duniaku sudah sempurna.

The Seine river glitters like your eyes.

The Eiffel Tower is very high, just like how I cannot reach your heart. 

Aku melayang menuju Paris. Bersamamu menyusuri kota nan romantis. Impian dan kenyataan menjadi bias. Bahagia yang berawal dari maya menjelma nyata.

Although you may be hurt and bleeding now, a better day will come. 

Hard work will never betray you.

Seakan  kurang sempurna, kau membuktikan diri sekali lagi bahwa kata-katamu   mampu menggerakkan semangatku. Membuatku bangkit. Membantuku mengubur keputusasaanku. Mendengar kau mengucapkan kata itu membuatku yakin pada kebahagiaan di depanku.

 

Pondok Aren, 05042013


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 941 pengikut lainnya.