Sedih Itu Juga Tak Berharap Datang

Perempuan itu memutuskan untuk berjalan. Meninggalkan semua yang dia rasa menyakitkan. Sempat juga dia ingin berbalik, tak mau meninggalkan sedikit bahagia yang pernah dia rasakan. Tapi baginya, mundur bukan pilihan.
Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu, ia berjalan kadang dengan ragu. Di pertigaan jalan dia menengok ke kiri lama sekali. Lalu ke kanan lama sekali. Dia pun berhenti. Entah menunggu apa. Lama setelah itu, baru dia berjalan kembali. Dia berjalan lurus. Hal-hal di kanan dan kirinya sepertinya kurang menarik perhatiannya.
Lalu sedih itu datang. Lagi. Perempuan itu tidak mengacuhkannya sama sekali. Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.
“Aku mencari kebahagiaan yang besar di depan. Mengapa kamu yang datang?”
Sedih itu muram. “Maafkan aku. Aku juga tak berharap datang padamu. Tapi cuma kamu, yang membiarkan aku berdamai dengan diriku. Air matamu terlalu menenangkan, sulit sekali kutinggalkan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: