Arsip Kategori: Uncategorized

Hari #2: Kita Petualang (II)

kita adalah petualang. masih menyusuri jalan sambil bernyanyi-nyanyi riang. menjelajah alam sampai berganti-ganti terang. menyelipkan bekas di tanah yang kita tandang.

hingga tiba kita di tempat baru. daerah dengan penduduk yang semuanya terisak tersedu, seperti terbungkus haru. sejenak, aku merasa ikut dijegal pilu dan tiba-tiba ikut menangis sendu. untung kau segera memelukku. menarikku dari kesia-siaan pedih yang tak berdalih. menghangatkanku menuju kasih yang tanpa pamrih.

ah, terima kasih. kau menyadarkanku dari kepitan haru negeri ini. “Negeri Biru”, yang menumbuhkan tunas-tunas haru di tiap derap kaki telanjang dan bersepatu. getar sayangmu terlalu kuat untuk rayuan-rayuan pilu para penduduk Negeri Biru.

di ujung negeri itu, kita terbahak. menertawakan perih yang kalah, sedih yang mengaku salah. lalu kita beranjak ke utara, mencari negeri-negeri baru. karena kita adalah petualang, tak henti menjejak langkah pada tanah yang terbentang.

02122010


pangeran kecil itu telah menjelma malaikat

Aku baru bertemu teman. Dia terisak sepanjang jalan. Setelah kutanya ada apa, sambil terbata dia cerita bahwa minggu lalu pangeran kecilnya baru saja berpulang. Tiba-tiba dadaku sesak tak karuan.

Rasanya tak perlu kuceritakan betapa berharganya pangeran bagi temanku. Aku yang baru beberapa kali bertemu pangeran saja tak kuasa menahan sedih karena kehilangan, apalagi temanku, yang setahun belakangan selalu bersama pangeran.

Temanku bilang, kehilangan pangeran kecilnya membuatnya seperti terdampar di padang gersang sendirian. Telanjang. Aku diam. Aku menangis. Lalu aku bilang, jangan merasa sendirian di sana. Kami semua sayang pangeran kecilmu, kami pun merasa terdampar, tertampar kesedihan.

Temanku tersenyum kecil. Dia berkata, “ya, bahkan tadi pagi di rumah aku seperti mendengar isakan kaleng susu tersedu memanggil nama pangeran.” Aku takjub dan hanya bisa memeluk temanku erat-erat, berharap sedihnya tak lagi meledak. Lalu kami terdiam lama.

“Kamu tahu apa yang membuatku lebih lega?” tanya temanku, matanya menerawang seakan bicara pada awan. “Aku bahagia, menyadari begitu banyak yang sayang pangeranku. Bahkan Tuhan,” lanjutnya. Ia tersenyum. Aku terisak.

Aku hanya mendengar, tidak melihat, tidak menyaksikan. Bukan aku yang kehilangan, tapi aku turut merasakan. Sedih rasanya membayangkan tawa dan tangis lucu pangeran tidak lagi dapat kusaksikan. Tapi kami, aku, temanku, dan semua orang yang menyayangi pangeran, tahu bahwa sang pangeran telah menjelma malaikat. Pangeran menyaksikan alur kehidupan kami dari surga, rumah barunya. Pangeran tentu tidak ingin kami semua kelamaan berkubang di rawa kesedihan.

Selamat jalan pangeran… Setahun hidupmu akan terukir di ingatan, selalu terngiang sepanjang kehidupan. Buat temanku, semoga selalu teriring sabar.

Tulisan ini juga dimasukkan ke lomba Agustus di ceritaeka :)


aku bersujud

Malam ini aku bersujud padaMu karena takut. Takut pada siksa dan azabMu. Takut pada ketakaburanku. Takut tidak diacuhkanMu. Takut pada sia-sianya waktuku untuk beribadah padaMu. Takut jika Engkau akan meninggalkanku, membiarkanku berpaling. Tapi kemudian aku sadar ketakutanku tak beralasan. Engkau maha pengasih, tak akan memberikan siksa pada sembarang orang. Tiba-tiba takutku meluruh. Aku malu padaMu.

Malam ini aku bersujud padaMu karena malu. Malu telah menyia-nyiakan nikmatMu dan terus mengejar kebahagiaan semu. Melihat orang bepergian dengan mobil pribadi, aku iri, tak mensyukuri nikmatnya punya kaki. Melihat orang bisa bernyanyi merdu aku iri, lupa bahwa nikmat bicara yang kumiliki tidak ternilai. Melihat orang memegang blackberry aku iri, lupa bahwa di luar sana masih banyak yang tidak bisa makan setiap hari. Aku malu karena tidak menyadari betapa nikmat yang kudapat sesungguhnya jauh dari cukup. Aku malu selalu menyalahkanMu karena tak memberi kesenangan dunia. Aku malu memintaMu tanpa henti, tanpa melihat apa yang telah Engkau beri padaku.

Malam ini aku bersujud padaMu karena rindu. Ternyata aku tidak bisa mengabaikanMu. Lelah aku berjalan sambil berpaling dariMu. Selama ini aku tidak sadar, sejauh apapun aku berpaling, Engkau selalu ada untuk memberi kasih dan sayang. Aku rindu melewatkan malam-malamku bersamaMu. Aku rindu bertandang ke rumahMu. Aku rindu memujaMu.

Di atas semua itu, malam ini aku bersujud padaMu karena cinta. Cinta padaMu, penciptaku, yang telah memberiku nyawa, hidup, dan berjalan di dunia dengan cinta mengelilingiku.

tulisan ini dibuat untuk lomba Agustus di Ceritaeka


selamat datang

ini adalah blog (terbaru) saya
silakan dinikmati, semoga suka.


Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 674 pengikut lainnya.