kita adalah petualang. masih menyusuri jalan sambil bernyanyi-nyanyi riang. menjelajah alam sampai berganti-ganti terang. menyelipkan bekas di tanah yang kita tandang.
hingga tiba kita di tempat baru. daerah dengan penduduk yang semuanya terisak tersedu, seperti terbungkus haru. sejenak, aku merasa ikut dijegal pilu dan tiba-tiba ikut menangis sendu. untung kau segera memelukku. menarikku dari kesia-siaan pedih yang tak berdalih. menghangatkanku menuju kasih yang tanpa pamrih.
ah, terima kasih. kau menyadarkanku dari kepitan haru negeri ini. “Negeri Biru”, yang menumbuhkan tunas-tunas haru di tiap derap kaki telanjang dan bersepatu. getar sayangmu terlalu kuat untuk rayuan-rayuan pilu para penduduk Negeri Biru.
di ujung negeri itu, kita terbahak. menertawakan perih yang kalah, sedih yang mengaku salah. lalu kita beranjak ke utara, mencari negeri-negeri baru. karena kita adalah petualang, tak henti menjejak langkah pada tanah yang terbentang.
02122010
