Kadang, ketidaktahuan itu justru membuat nyaman.
Seperti yang selama ini aku lakukan.
Nyaman pada prasangkaku.
Tentang kamu.
Ah, mungkin pengetahuan ini hadiah dari Tuhan.
Supaya aku tak tenggelam dalam harapan.
Kadang, ketidaktahuan itu justru membuat nyaman.
Seperti yang selama ini aku lakukan.
Nyaman pada prasangkaku.
Tentang kamu.
Ah, mungkin pengetahuan ini hadiah dari Tuhan.
Supaya aku tak tenggelam dalam harapan.
yang perlahan melayang, kini menghilang.
terhapus kenyataan.
yang sempat singgah, kini pindah.
terusir hilangnya perasaan.
kini waktu bukan lagi pemicu rindu.
Kita sudah tiba di perbatasan
Walau dengan linangan, saatnya melepas pegangan perlahan
Kau boleh jalan duluan
Aku akan melepas punggungmu dengan senyuman
O mata
Bantu aku abadikan
Sekilas pandang
Yang akan abadi
Di penglihatan
Bulan elok indah
Gemintang meruah
Malam mengundang senyum bersamanya
Hati yang patah
Cuma sedih tercurah
Untuknya, malam tak kuasa apaapa
Gelap semua
Sepi telah menyelimuti kesedihannya
Menunggumu adalah tanah yang tabah menadah deras hujan.
Setia mendaraskan puisi dengan senyuman.
Meneteskan basah di samarsamar tangisan.
Sebab hanya dengan puisi aku dapat menemuimu dalam ketiadaan.
Merindukanmu adalah horizon yang menanti petang.
Mendamba matahari yang hanya sekelebat singgah di tepitepinya.
Tiadalah rindu berbalut haru selain bulan merindu memeluk bumi.
Yang hanya mampu bersitatap tanpa saling bersidekap.
Kamu pelukan yang aku ukir di pinggir hati.
Hangatnya abadi, meski hanya di mimpi.
Dan aku tahu, suatu saat kau akan mengunjungiku.
Memberikan sebuah hangat pelukan.
Meski cuma dalam ingatan.
lelaki kecil menjual payungpayung kecil
menawarkan pada mataku yang gerimis
aku menggeleng
gerimis ini satusatunya tanda ada kamu meski dalam tangis
lelaki kecil itu tersenyum,
menawarkan kembali payung kecilnya, gratis
akhirnya kau bertemu dia.
cinta yang lama ingin kau sapa, kini mewujud manusia.
lalu kau bercerita
tentang malam-malam yang tak lagi hitam
tentang rindu yang kini bertuan
tentang senyum yang selalu kaulihat di ujung jalan
aku tetap selalu di sampingmu
sebagai penunjuk jalan
siapa tahu kelak kau ingin pulang
ke cinta yang sebenarnya:
aku
telah lewat masa.
telah habis suara.
hati pun buta.
segala arah, salah.
kau setia menempuh utara.
menemani sunyimu sendiri
aku berbalik ke selatan.
mencari sepiku sendiri.
ini cerita baru.
kau cemburu pada abu.
aku menanti yang berlalu.
kini rindu kita hanya bertemu di tepian paling biru.
dua hari lalu, @sihirhujan, admin @puisikita memberi kabar duka. @mahesaaditya telah meninggal dunia.
kami, teman mahesa di linimasa, sangat kaget mendengar kabar itu. bahkan saya sempat menangis. :’(
mahesa adalah salah satu penyair di twitter yang sangat saya kagumi. sajak-sajaknya sangat bagus, sering diReTweet akun-akun sajak twitter seperti puisikita, @sajak_cinta, @syair_malam, @sajakMbelink, juga sering di RT kami, followernya.
sebagai kenang-kenangan, saya akan menyalin beberapa sajak mahesa, yang saya ambil dari akun twitternya.
Aku akan baik-baik saja, sebab kelak segala luka dan kenangan akan mengabu, lesap di laut sunyi jiwaku.
Kucoba pejamkan kedua mata, namun rindu ini seperti ujung pedang yang mengancamku untuk terus membuka mata.
Melupakanmu, adalah merelakan airmataku jatuh, dalam setiap doaku, untukmu.
Sudahlah nak, berhenti, saat kita kelaparan puisimu tidak bisa dijual untuk membeli nasi!
Kutepikan segala kejemuan, lalu aku berkarib dengan kesunyian, matahari kuning tua mengecupku dari celah daun-daun cemara.
Kerinduan seperti sebuah kebodohan, meski memberi kepedihan namun tetap kulakukan.
Sajak-sajak yang kutulis dengan hangat embun mataku, karam di laut terdingin, hatimu.
Untuk apa kamu bertahan pada satu cinta yang nyata-nyata hanya memberi kamu luka?
Cinta yang telah pergi, cukup dikenang dalam sepi, seperti asap meninggalkan api, ia tak akan lagi kembali.
Peluklah aku sebentar saja, biar aku tenang seperti laut tanpa gelombang, seperti sunyi padang ilalang.
Itulah, sebagian kecil tulisan Mahesa. masih banyak yang tak kalah menakjubkan.
selamat jalan, mahesa.
semoga kau bahagia di sana. :’)
Ketika cinta menyapa
Apakah bermakna?
Ketika sayang membelai
Apakah bermakna?
Ketika pagi menjemput.
Saat malam menyambut.
Apakah bermakna?
Ya!
Bila kau telah kehilangan semua.