Tak bosan aku bersajak tentang jarak. Tentang pijak langkah kita yang semakin jauh menapak. Seberapa lama kita tahan pada jalan yang pelan-pelan memanjang? Seberapa kuat kita kukuh dari godaan orang-orang di kanan kiri jalan? Entah.
Dengan kau jauh di sana, aku mengenal rindu. Rindu yang mengenalkanku lebih dalam pada cinta. Cinta yang lebih berarti, sejati menyatukan aku dan kau menjadi kita.
Aku juga, kadang kalah pada dingin. Yang menepuk punggung tanganku yang telanjang, tanpa jemarimu untuk kutautkan. Tapi kenangan menjagaku agar tetap berpengharapan, bahwa masa depan kita adalah jalan dan genggam yang beriringan.
Bila kau menggigil dalam hujan, aku memelukmu dari kejauhan. Kuharap kau tak lupa menghanyutkan perahu kertas berisi peluk balasan.
Bila kau kepanasan, aku menghiburmu melalui embus angin yang menyejukkan. Lambaikan aku kecup balasan dengan alunan jalin kenangan. Karena angin adalah sahabat angan-angan, setia melanjutkan impian ke mana pun kau inginkan.
30112010

November 30th, 2010 at 10:39
MANYUUUUUUUUUUUUUUUUN
November 30th, 2010 at 11:21
Sedikit polesan … pasti akan semakin cantik …
Coba baca ulang deh …
Desember 1st, 2010 at 19:55
datar!
tidak kurasakan tanjakan, turunan, atau jalan bergelombang, datar.
Desember 2nd, 2010 at 11:28
@cahya terima kasih
@manyun no comment
@lelakibudiman, @haziran hwaa… mohon petunjuk!